Robert’s-Idea

Expression and Inspiration

DON’T JUDGE THE BOOK BY IT’S COVER

with 4 comments

Tiap orang selalu menilai orang lain. Proses menilai tersebut bisa berlangsung secara sadar ataupun tidak sadar. Penilaian yang dilakukan secara sadar biasanya tampak dalam proses wawancara calon tenaga kerja baru. Disana, seorang pelamar kerja akan dinilai oleh pihak perusahaan, mulai dari karakter, kompetensi, dan pengalamannya dalam bekerja. Sedangkan penilaian secara tidak sadar prosesnya jauh lebih sederhana, namun efeknya bisa sangat mempengaruhi bagaimana seseorang memperlakukan orang yang dinilainya itu. Menilai orang secara salah dapat menjerumuskan kita kedalam sejumlah kerugian tertentu.

 

            Saat pertama kali berkenalan dengan seseorang, kita sebenarnya sudah melakukan penilaian. Jika kita mengingat seseorang karena gaya berpakaiannya yang aneh, wajahnya yang selalu murung, senyumnya yang tulus, sifatnya yang periang, dan berbagai karakteristik lainnya, berarti kita sudah melakukan penilaian. Sumber penilaiannya apa?. Semua yang dapat terlihat dan dirasakan secara fisik oleh kelima indera. Dasar penilaiannya apa? Ya sesuatu yang ideal bagi kita. Kita mengatakan seseorang memiliki gaya berbusana yang buruk karena menurut pandangan kita memang terlihat buruk (tidak ideal), sekalipun belum tentu demikian bagi orang lain. Subjektif memang.

 

            Di sinilah sumber masalah muncul. Subjektifitas yang terkadang bisa menyesatkan. Karena indra manusia yang terbatas, dalam artian tidak bisa melihat kedalaman pribadi manusia, banyak penilaian salah diberikan ke orang yang salah pula. Sering terlihat bahwa seseorang dengan penampilan menarik dan busana yang mewah akan mendapat penilaian lebih positif dibandingkan dengan mereka yang tidak. Tak heran jika dalam dunia kerja, penting sekali mengatur gaya busana untuk menciptakan image yang positif. Tak ada yang perlu diperdebatkan dalam proses penilaian seperti ini.

 

            Namun terkadang kita merasa tertipu jika seseorang yang awalnya kita nilai positif, ternyata tidak sebaik yang kita kira. Ibarat membeli buah yang berkulit segar namun dalamnya busuk!. Misalnya, kita menilai kompetensi seseorang berdasarkan nilai studinya, kemampuannya berbicara (kharisma), dan kemampuan sosialisasinya. Namun dalam hitungan bulan atau tahun, semua penilaian positif tersebut meluntur seiring dengan munculnya karakter-karakter buruk orang tersebut. Karakter buruk tersebut merupakan penghalang utama bagi perkembangan kompetensi orang itu. Kemudian kita sadar bahwa kita telah salah menilai orang.

 

            Jika demikian, bagaimana caranya agar kita tidak salah menilai orang?. Jawabannya bukan terletak dalam proses penilaian, namun dalam proses mengambil kesimpulan!. Saran saya, JANGAN TERLALU CEPAT MENYIMPULKAN!. Bolehlah, kita menilai seseorang secara fisik (karena keterbatasan indera manusia tadi). Tetapi berilah Sang Waktu kesempatan, untuk menunjukkan siapa sesungguhnya orang yang ada di hadapan kita sekarang. Karena kualitas diri yang sejati dinilai oleh waktu!.

Iklan

Written by robert

April 19, 2008 pada 4:44 am

Ditulis dalam Character and Motivation

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Bener banget bet……

    Thanx, artikel yang kamu tulis udah buka mataku bahwa kita ga boleh terlalu cepat nyimpulin orang lain tuh gimana…

    hohoho…

    Keep writing ya ^^

    licke

    April 19, 2008 at 2:09 pm

  2. sayangnya berbagai indikator psikologis pun seringkali meleset dalam “membaca” seseorang. pada sejumlah perusahaan, yang punya cukup waktu dan sumber daya, proses pemagangan jadi pilihan utama. referensi juga jadi pertimbangan utama, bagi mereka yang tak punya banyak waktu untuk “membaca.” terpenting dari itu semua, sebaiknya memang ada kepercayaan buat jadi diri sendiri. menduplikasi pribadi jadi diri lain, agar sesuai dengan persepsi harapan sungguh bukan pilihan. soalnya ini adalah awal dan pintu masuk bagi segala bentuk manipulasi. ujung-ujungnya bisa korupsi dan pelanggan tetap bui. hiii….ngeriii…
    nice post bert!

    ingki

    April 23, 2008 at 2:07 pm

  3. To Licke: Emang gak boleh cepet-cepet nyimpulin, ntar dikibulin… hehehe. btw, kutunggu blog-nya.

    To Ingki: Mas, komen anda benar-benar melengkapi. Menduplikasi diri adalah pintu masuk bagi segala bentuk manipulasi. That’s a Great Idea!.
    Keep writing ya.

    robertfilipusambat

    April 24, 2008 at 5:38 am

  4. Somehow i missed the point. Probably lost in translation 🙂 Anyway … nice blog to visit.

    cheers, Powdery.

    Powdery

    Juni 19, 2008 at 3:56 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: