Robert’s-Idea

Expression and Inspiration

DICARI: SUKA IKUTAN!

leave a comment »

Beberapa hari lalu saya menyaksikan ulah segelintir orang yang cukup menggelitik. Sore itu saya sedang terjebak macet di Jalan Ahmad Yani, Surabaya, dan benar-benar macet total hingga kendaraan saya tidak sanggup beranjak satu jengkal pun. Banyak pengendara mulai terlihat gelisah karena sudah terlalu lama menunggu, tidak terkecuali saya sendiri. Mungkin ini diakibatkan kondisi sehabis pulang kerja yang cukup melelahkan dan tentunya ingin segera beristirahat di rumah.

Tiba-tiba saja seorang pengendara sepeda motor mengangkat motornya ke trotoar, kemudian menaiki dan menjalankan motornya di trotoar tersebut. Alhasil, pengendara motor yang awalnya berada di belakang, sebaris dengan saya, kini sudah meninggalkan barisannya jauh di depan. Spontan tindakan tersebut memicu niat serupa bagi pengendara motor lainnya. Mereka beramai-ramai menaikkan sepeda motornya ke trotoar. Bahkan ada aksi gotong royongnya pula. Jika ada pengendara yang tidak dapat mengangkat motornya, pengendara lain turun tangan membantu. Peristiwa tersebut tentu saja menjadi tontonan semua orang.

Saya tidak melihat peristiwa tersebut dari segi etis atau tidak etis nya. Namun saya melihat suatu karakter unik masyarakat Indonesia, yaitu suka IKUT-IKUTAN. Menurut saya, jika tidak ada yang memulai menaikkan motornya ke trotoar maka tidak akan ada kejadian yang diceritakan di atas. Begitu seseorang memulainya, banyak orang lainnya mengikuti. Itulah sebagian besar karakter masyarat Indonesia, jika tidak ingin dikatakan seluruhnya.

Mari kita tarik peristiwa tersebut dalam perspektif bisnis. Lihatlah betapa banyaknya produk-produk yang dikonsumsi bukan karena kebutuhan, namun semata-mata karena ikut-ikutan saja. Ambilah contoh Handphone. Ketika seseorang membeli seri terbaru Nokia dan puas dengan produk tersebut, dia akan menceritakan pada teman-temannya. Dampaknya, teman-temannya IKUT-IKUTAN membeli. Apakah karena kebutuhan? belum tentu juga. Efek dari perbincangan tentang Handphone tersebut dapat menimbulkan keinginan. Kemudian keinginan tersebut seolah-olah menjadi kebutuhan dan keinginan itu makin matang ketika orang itu mulai mempertimbangkan untuk membeli.

Namun bisa juga terjadi sebaliknya, dimana ketika orang itu kecewa dengan kualitas produk Nokia tersebut , dia akan menceritakan kepada teman-temannya. Joe Girard, seorang penjual mobil terbesar, mengatakan bahwa konsumen yang kecewa terhadap sebuah produk akan menceritakan pengalaman buruknya itu kepada 250 orang lainnya. Dampaknya, produsen bisa kehilangan banyak pelanggan berpotensi. Oleh karena itu, menjaga kualitas produk dan pelayanan adalah syarat mutlak untuk dapat bersaing.

Lihat pula bagaimana pola trend gaya rambut, khususnya untuk wanita. Banyak wanita yang mengubah gaya rambutnya sesuai dengan trend yang diminati saat itu. Para artis umumnya menjadi trendsetter gaya rambut. Nah yang kayak beginian ini kan menguntungkan para penata rambut. Sebab orang mengubah rambutnya bukan karena kebutuhan, tetapi karena mereka IKUT-IKUTAN model rambutnya para artis atau yang lagi ngetrend.

Yang terakhir ini terjadi pada teman saya. Dia tertarik membeli sebuah jam tangan karena jam tangan tersebut dipakai juga oleh seorang pembalap terkenal. Dia ingin IKUT-IKUTAN punya jam tangan tersebut. Apakah dia membeli karena kebutuhan? tidak juga.

Masih banyak sederetan contoh tentang orang yang membeli karena ikut-ikutan saja, bukan karena kebutuhan. Ini peluang yang baik bagi para pebisnis. Yang terpenting adalah dengan mengetahui siapa opinion leader (pengambil keputusan) dan Influencer (pemberi pengaruh) dalam suatu kelompok, karena para opinion leader dan Influencer biasanya diikuti oleh orang-orang dalam kelompok (segmen) tersebut. Menurut survey yang dilakukan oleh Frontier, lembaga survey asuhan Handy Irawan, masyarakat Indonesia suka hidup berkelompok. Sehingga pembicaraan dari salah seorang anggota kelompok pasti dapat mempengaruhi anggota kelompok yang lain.

Namun memang tidak semua produk memperoleh respon seperti itu dari konsumen. Biasanya, produk-produk yang berhubungan dengan fashion-lah yang banyak dibeli/dikonsumsi karena ikut-ikutan tadi. Makanya, tidak heran apabila banyak marketer yang kemudian membangun image produknya ke arah fashion walaupun fungsi dasar produk tersebut bukanlah untuk fashion.

Iklan

Written by robert

April 6, 2008 pada 2:47 am

Ditulis dalam Business and Marketing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: