Robert’s-Idea

Expression and Inspiration

KARAKTERMU ADALAH DIRIMU

leave a comment »

Siapa kita sebenarnya ditentukan oleh karakter kita. Karakter seseorang menjelaskan dengan lebih tepat siapa sesungguhnya orang tersebut, daripada pengakuannya tentang dirinya sendiri. Karaktermu adalah dirimu. Siapa yang tidak ingin memiliki karakter yang baik?. Semuanya pasti ingin, sebab tidak ada yang mau dikucilkan dalam lingkungannya karena masalah karakter yang buruk. Bagaimana caranya memiliki karakter yang baik?. Sebelum melangkah lebih jauh, kita harus mengerti dulu apa itu karakter.

Dalam kamus bahasa Indonesia, karakter ialah tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Leonardo A. Sjiamsuri dalam bukunya “Karisma Versus Karakter” mengatakan bahwa karakter adalah merupakan siapa anda sesungguhnya.

Jadi karakter adalah suatu ciri khas, yang terbentuk dalam jiwa dan terwujud dalam tindakan nyata, yang membedakan satu orang dengan orang lainnya. Agar lebih mudah dicerna, karakter ialah tindakan / keputusan / kebiasaan, yang cenderung dilakukan berulang-ulang oleh seseorang. Misalnya, seseorang dikatakan pencuri, karena dia berkali-kali melakukan kegiatan mencuri. Seseorang dikatakan kasar, karena dia punya kecenderungan memukul dan membentak orang lain apabila sedang stres. Seseorang dianggap patut diteladani, karena dalam banyak hal dia telah menunjukkan sifat-sifat dan tindakan yang menjunjung tinggi kejujuran.

Maka dari itu, sesungguhnya tidaklah tepat apabila kita langsung menilai seseorang adalah pencuri apabila dia baru pertama kali mencuri. Mungkin saja dia tidak ingin mencuri, karakter pribadinya menolak dengan tegas sifat-sifat mencuri. Namun karena himpitan ekonomi, dia nekad melanggar nuraninya.

Demikian juga tidak tepat apabila kita buru-buru menilai seseorang patut diteladani. Sifat-sifat orang itu perlu diuji oleh waktu terlebih dahulu. Jika dia memang konsisten menunjukkan sifat-sifat yang menjunjung tinggi kejujuran dan integritas, maka barulah boleh mengatakan bahwa dia patut diteladani.

Disinilah saya ingin menguraikan benang merahnya…

Ada sebuah siklus dalam kehidupan yang membentuk karakter manusia:

Pikiran – Tindakan – Kebiasaan – Karakter

Sadarkah kita bahwa tindakan yang kita lakukan selalu berawal dari apa yang kita pikirkan?. Kita membentak, kita marah, kita menangis, kita berbuat curang, kita menolong orang lain, semuanya berawal dari apa yang ada dalam pikiran kita. Karena itu, kecenderungan seseorang berpikir negatif akan berubah wujud menjadi tindakan yang negatif pula. Apabila seseorang cenderung berpikiran egois, merasa paling benar, maka apabila ditimpa sebuah masalah, orang ini akan cenderung mencari kambing hitam (mencari orang lain untuk disalahkan), sebab dalam pikirannya telah terbentuk bahwa dia selalu benar. Maka, JIKA INGIN MEMPERBAIKI TINDAKAN, PERBAIKI DULU PIKIRAN KITA.

Nah, sebuah tindakan jika dilakukan berulang-ulang, akan menguat menjadi sebuah kebiasaan. Karena itu, penting sekali untuk segera mengubah tindakan negatif yang beberapa kali pernah kita lakukan, sebelum tindakan-tindakan tersebut menguat menjadi kebiasaan. Jika sudah menjadi kebiasaan, akan lebih susah mengubahnya!. Karena itu, jika kita ingin mengembangkan sebuah kebiasaan yang baik, caranya sebenarnya tidak terlalu sulit, SETIA SAJA MELAKUKANNYA HARI DEMI HARI. Misalnya, anda ingin mengembangkan kebiasaan berolahraga untuk menjaga kebugaran tubuh, ya buatlah komitmen untuk berolahraga setiap hari, jangan pernah absen!. Sekali absen, biasanya ada keinginan absen lagi, dan makin malas berolahraga. Jika anda ingin lebih ramah, buatlah komitmen untuk berbuat kebaikan setiap hari untuk minimal satu orang. Setialah melakukan itu!. Lama kelamaan akan mudah melakukannya. Menurut Survey, dibutuhkan waktu 3 bulan untuk membentuk sebuah tindakan menjadi kebiasaan.

Finalnya, berbagai macam kebiasaan tersebut akan berkumpul membentuk sebuah ciri khas, yaitu karakter!. Dan itulah diri anda sesungguhnya.

Maka dari itu sahabat-sahabatku, jika ingin memiliki karakter yang baik, mari mulai memperbaiki pikiran kita. Ganti pikiran-pikiran negatif menjadi pikiran yang lebih positif. Berhenti sering berprasangka buruk tentang seseorang, berhenti berpikir diri sendiri yang paling benar, berhenti berpikir tentang mencari sesuatu untuk keuntungan diri sendiri. Gantilah dengan pikiran-pikiran yang menghargai orang lain. Bukankah ini akan membuat pikiran terasa lebih ringan?. Jangan berhenti sampai disini, tunjukkan melalui perbuatan. Lebih ramah, lebih murah senyum, lebih suka menolong, lebih sabar, lebih pintar, dan lebih bijak. Kemudian buatlah komitmen untuk setia melakukan itu!. Maka anda akan memiliki karakter yang baik dan patut diteladani.

Mari bersama-sama menjadi pribadi yang excellent!

Written by robert

Juli 13, 2008 at 2:38 am

Ditulis dalam Character and Motivation

LEBIH BAIK PUNYA MUSUH

with 3 comments

Kata “musuh” selalu dikonotasikan dengan berbagai hal yang negatif. Bukannya tanpa alasan stereotip tersebut tercipta. Banyak percekcokan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang dipicu oleh permusuhan antar golongan. Iri hati, dendam, dengki, dan benci, semuanya adalah benih-benih yang memunculkan sikap bermusuhan. Sikap bermusuhan tersebut tentunya ditujukan kepada seseorang atau pihak yang dianggap sebagai musuh. Singkatnya, kata “musuh” adalah penyebab segala sesuatu yang buruk, dan akibat dari segala sesuatu yang buruk. Well, apa jadinya jika saya memberitahu anda bahwa lebih baik anda punya musuh?

Jangan terburu-buru menghakimi saya sebagai penulis sesat. (hehehe…)

Musuh yang saya maksud disini bukanlah musuh dalam artian seperti diatas. Melainkan seseorang atau pihak yang kita anggap sebagai lawan tanding dalam sebuah kompetisi. Dalam konteks ini, harus disepakati dulu bahwa makna kompetisi tidaklah terbatas pada bidang olahraga saja, melainkan setiap orang yang ingin meraih sesuatu dapat dikatakan sedang menghadapi sebuah kompetisi. Sebab orang tersebut memiliki “lawan-lawan” yang menginginkan hal yang sama, sehingga terjadi perebutan. Misalnya, kompetisi menjadi jawara dalam ajang olympiade matematika, kompetisi menjadi jawara Indonesian Idol, kompetisi menjadi sarjana terbaik, kompetisi memperebutkan posisi sebagai direktur sebuah perusahaan, hingga yang akan segera menjadi kompetisi terpanas di Tanah Air…. Kompetisi menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Anda yang sedang membaca tulisan ini, mungkin juga sedang menghadapi sebuah kompetisi. Sebab hidup memang penuh kompetisi

Dalam sebuah kompetisi, anda punya musuh yang harus dikalahkan agar tujuan anda tercapai. Tidak mungkin dua orang memperoleh hasil yang sama. Peraturan dalam sebuah kompetisi selalu memisahkan mana yang terbaik diantara yang baik. Karena itulah saat ini anda sedang berusaha meningkatkan skill, terus berlatih dan berlatih. Dalam proses tersebut, anda mungkin juga sesekali mengamati “lawan-lawan” anda. Terkadang anda terkejut betapa hebatnya mereka semua, lebih daripada yang dapat anda perkirakan. Maka kemudian anda kembali berlatih lebih keras…. dan lebih keras lagi!.

Tidakkah anda sadari, bahwa dengan memiliki musuh, anda selalu termotivasi untuk memacu semangat bersaing dan terus meningkatkan skill. Musuh andalah yang membuat anda menjadi lebih baik hari ini!. Memang harus diakui bahwa itu juga tergantung dari sikap seseorang. Ada seseorang yang menjadi lemah (takut, minder, dan khawatir) ketika melihat lawan-lawannya ternyata lebih kuat dari yang dibayangkan. Namun ada juga yang makin termotivasi!. Bagi orang-orang yang makin minder ketika melihat lawan-lawannya, saya katakan bangkitlah!. Ini bukan jamannya lagi memiliki sikap seperti itu. Dunia saat ini akan ditinggali oleh manusia-manusia yang memiliki semangat bersaing. Tidak percaya? lihat saja, tanda-tandanya sudah nyata.

Bagi anda yang senang berkompetisi, sadarilah bahwa musuh anda adalah aset yang berharga. Jika tidak memiliki musuh, anda tidak akan dapat mengukur seberapa jauh anda sudah melangkah. Dengan tidak adanya musuh, motivasi apa yang membuat anda terus berlatih? toh sudah tidak ada lagi yang menjadi tolok ukur.

Namun jangan salah, diri anda bisa menjadi musuh juga!. Prestasi anda saat ini adalah musuh bagi prestasi anda selanjutnya. Skor yang anda raih saat ini adalah musuh bagi skor yang akan anda pecahkan kelak. Jika anda cukup puas dengan keadaan dan prestasi yang telah diraih saat ini, bisa jadi anda akan terlena dan tidak lagi berlatih mengembangkan kapasitas.

Maka dari itu, waspadalah…. musuh mengintai dimana-mana. Namun syukurilah hal tersebut.

Sayangnya, saat ini banyak yang mengotori kehormatan sebuah kompetisi dengan menghalalkan segala cara untuk menang. Pemenang bukan lagi ditentukan dari kemampuan yang dimiliki, tetapi dari faktor-faktor lain. Umumnya…….. Money!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Written by robert

Juni 15, 2008 at 4:09 am

JUST DO IT

leave a comment »

Maya sudah lama merencanakan untuk mulai berolahraga. Saat itu tepatnya dimulai sebulan yang lalu, ketika dia memandangi dirinya sendiri di depan cermin. Dia melihat lingkar pinggang yang makin membesar akibat genangan lemak di tubuhnya. Pikiran Maya kembali menerawang ke belakang, mengingat saat-saat dimana dia begitu bernafsu menyikat habis semua makanan dihadapannya. Sejenak dia termenung.

Kemudian terbersit dalam benaknya sebuah tekad untuk mulai menjalani pola hidup sehat. Maya mulai mengatur jadwal olahraga pribadinya. Tak cukup sampai di situ, Maya juga mengatur pola makan, mulai dari membatasi konsumsi makanan manis dan berlemak, serta meningkatkan konsumsi buah dan sayuran segar. Yap!!!. Tak butuh waktu lama, semua rancangan pola hidup sehat tersebut telah tersusun rapi di atas kertas. Bak sebuah strategi perang, Maya bertekad kuat untuk menjalani hari-harinya berdasarkan strategi pola hidup sehat yang telah disusunnya tersebut. Namun…………………………………..

Disinilah Maya berada sekarang. Dimana lingkar pinggangnya kian membesar saja. Lho??. Yah, ternyata Maya gagal merealisasikan komitmennya. Tiap hari dia menunda dan terus menunda dengan alasan-alasan yang cukup masuk akal sih sebenarnya. Misalnya: “saya sedang capek sekali, tidak mungkin berolahraga sekarang”, “Pekerjaan cukup banyak, saya tidak bisa berolah raga sekarang, besok saja”, “Wah saya sedang stress, saya butuh makan yang banyak dan makan yang enak-enak, jadi sekarang bukan saat yang tepat untuk berdiet”. Akhirnya, Maya kini telah lupa dengan semua rencana pola hidup sehat yang telah disusunnya karena terlalu sering menundanya.

Tak jauh dari tempat tinggal Maya, tinggallah seorang pria bernama Sonny. Pria yang bekerja di sebuah perusahaan swasta di Ibukota ini berkali-kali mendapat teguran dari sang bos terkait dengan tugas-tugasnya yang selalu “molor” dari deadline. Bosnya bahkan sudah mendamprat dan memberikan peringatan bahwa jika Sonny tidak berbenah diri maka dia akan dipecat.

Alhasil, seperti terbangun dari mimpi buruk, Sonny bertekad kuat untuk memperbaiki dirinya. Dia mulai merancang perubahan hidupnya di atas kertas. Kebiasaan terburuk yang ingin dia hilangkan adalah menunda-nunda pekerjaan. Menurut Sonny, poin tersebutlah yang membuat tugas-tugasnya selalu molor. Yap!!!. Semua rancangan perubahan hidup telah disusunnya, kini tinggal merealisasikan.

Kini bagaimana keadaan Sonny?. Dia dipecat dari perusahaan karena tidak ada perbaikan dalam 3 bulan terakhir. Mengapa bisa demikian?. Rupanya Sonny gagal dalam merealisasikan komitmen untuk tidak menunda pekerjaan. Sebenarnya pada 2 Minggu pertama Sonny memang giat bekerja, sayangnya kebiasaan lamanya yang suka menunda pekerjaan muncul kembali. Ketika suatu pekerjaan menuntut diselesaikan saat itu juga, Sonny berdalih “Saya rasa pekerjaan ini masih sempat dikerjakan besok”. Begitu seterusnya hingga dia tidak sadar bahwa dirinya kini telah sangat tidak produktif.

Pesan dari cerita di atas adalah BANYAK TEKAD DAN KOMITMEN YANG HANYA BERHENTI DI ATAS KERTAS DAN TIDAK TEREALISASI!. Begitu banyak orang yang termotivasi ketika mendengar kisah-kisah sukses dari para pembicara di sebuah seminar, atau ketika membaca buku-buku motivasi. Tetapi tetap saja tidak ada perubahan dalam hidup orang tersebut, sebab dia tidak melakukan TINDAKAN-TINDAKAN yang diperlukan untuk mengubah keadaannya saat ini.

Pada umumnya, banyak orang yang hanya bertekad untuk berubah, bahkan menyusun langkah-langkah perubahan, tetapi gagal merealisasikannya. Mengapa? karena terus menundanya dengan bermacam-macam alasan!.

Sobat, jika saat ini kita punya sebuah komitmen yang harus dilaksanakan, apapun itu, jangan menundanya. LAKUKAN SAJA. Dan jangan lupa, LAKUKAN DENGAN KONSISTEN.

Written by robert

Juni 8, 2008 at 11:03 am

Ditulis dalam Character and Motivation

BEYOND THE LIMIT!

with 6 comments

Piala yang lepas, ayo diuber!. Mantra sakti tersebut belum bisa membuat Tim Merah-Putih membawa pulang piala Thomas-Uber Cup 2008 kali ini. Tim Thomas Indonesia yang dijagokan untuk merebut piala Thomas, justru kandas di semifinal saat melawan Tim Thomas Korea, dengan skor 0-3. Sebaliknya, Tim Uber yang sejak awal hanya ditargetkan masuk semifinal, justru mampu menembus final setelah menumbangkan Tim Uber Jerman, dengan skor 4-1, dan otomatis berhadapan dengan Tim Uber China.

Sayangnya, perjuangan keras Maria Kristin Yulianti dan kawan-kawan tak sanggup membendung kedahsyatan srikandi tirai bambu. Indonesia kalah 0-3. Namun siapapun yang menyaksikan partai final tersebut, pasti setuju dengan saya, bahwa permainan Tim Ganda Uber Indonesia (Liliyana Natsir/Vita Marissa) sangat memukau!.

Setelah kalah di set pertama dengan skor 15-21, Liliyana/Vita tidak menyerah. Mereka berusaha keras meraih point demi point di set kedua untuk menghambat kemenangan duo Yang Wei/Zhang Jiewen, yang merupakan pemain ganda dengan peringkat nomor 1 dunia. Pukulan dropshot berkali-kali dihujamkan, defense diperketat, tenaga dan semangat terus dipompa. Pasangan Indonesia terus bermain menyerang.

Pertarungan di set kedua begitu menguras tenaga Liliyana/Vita, sebab serangan demi serangan yang dilancarkan dapat diredam oleh Yang Wei/Zhang Jiewen, sehingga duel reli-reli panjang tak terhindarkan lagi. Bahkan Liliyana/Vita harus berkali-kali jatuh bangun untuk menahan serangan dari ganda China tersebut

Kejar-mengejar angka terus terjadi, dimana Tim Uber Indonesia sanggup menahan laju Tim Uber China dengan skor 21-19, walau akhirnya harus menyerah di set ketiga dengan skor 16-21. Meskipun demikian, Tim Uber Indonesia kalah terhormat (mengutip komentar Susi Susanti, manajer Tim Uber Indonesia).

Tak heran jika seluruh pendukung Indonesia di Istora tidak henti-hentinya memberikan dukungan walaupun harus melihat jagoannya kalah. Dukungan tersebut diberikan dengan tetap menyerukan yel-yel “Indonesia-Indonesia” saat penyerahan medali perak, dan menyalami para pemain.

Apa yang dapat kita pelajari?.

Kehidupan kita terkadang mirip sebuah pertandingan. Pertandingan untuk mewujudkan impian, the dream comes true!. Sayang, sebagian orang yang gagal mewujudkan impiannya disebabkan karena mereka menyerah saat pertandingan belum selesai. Dalih yang paling umum adalah “tidak mungkin bisa, ini sudah maksimal”. Seharusnya mereka sadar bahwa TIDAK ADA KATA MAKSIMAL SELAMA PERTANDINGAN BELUM SELESAI!.

Bahkan yang lebih tidak masuk akal lagi, ada yang menyerah dengan dalih “saya kurang ini, kurang itu, bagaimana mungkin bisa”. Jika Liliyana/Vita takut akan nama besar dan kemampuan Yang Wei/Zhang Jiewen, mereka pasti kalah telak di set kedua. Sebaliknya, mereka justru bermain sebaik mungkin, hasil dipikir belakangan, yang penting mengeluarkan seluruh performa terbaik.

Bahkan Tim Thomas Korea yang tidak diunggulkan, sanggup menumbangkan Tim Thomas Indonesia, walaupun peringkat Tim Thomas Indonesia jauh di atas Tim Thomas Korea. Artinya, terkadang kemenangan datang dari kegigihan seseorang untuk terus berjuang, terlepas dari bakat yang dimiliki.

Jika demikian, mari mulai bangkit, dan terus berjuang sebab pertandingan belum berakhir. Jangan puas dengan kemampuan maksimal. Berusahalah untuk dapat melampaui kemampuan maksimal yang dapat kita berikan. Beyond The Limit. Bagaimana dengan hasilnya?. Serahkan pada Tuhan. Setidaknya kalau kalah, kita harus kalah secara terhormat, sebab tidak ada kemampuan yang kita sisakan lagi.

Bravo Liliyana/Vita, thanx for inspiring me!.

Written by robert

Mei 18, 2008 at 9:10 am

Ditulis dalam Character and Motivation

EKSISTENSI MEMBACA

with 2 comments

Jangan terlalu banyak membaca, nanti jadi kutu buku. Ungkapan tersebut sudah akrab di telinga kita, bukan?. Rata-rata kalimat tersebut terlontar dari mulut anak-anak muda. Tak heran, banyak anak muda yang “sungkan” kelihatan rajin membaca. Sebab takut mendapat cap sebagai anak yang sok serius dan gak fun. Tampaknya, membaca bukan hanya menjadi momok, tetapi juga sangat melekat dengan image manusia kuper (kurang pergaulan). Inilah pengertian yang salah tentang membaca.

Justru dengan membaca, seseorang jadi banyak tahu. Orang yang tidak suka membaca, justru tidak banyak tahu. Orang yang tidak banyak tahu, mana enak diajak bicara? Banyak gak nyambungnya.

Saya berbicara dengan banyak orang, dari berbagai tipe, dan dari berbagai jenis muatan otak. Saya amati, tiap kali berbicara dengan orang-orang yang (maaf) jarang membaca, tidak banyak sesuatu yang saya dapatkan. Setelah berpisah dengan orang-orang tersebut, saya merasa nothing. Benar-benar tidak ada kepuasan. Tetapi ketika berbicara dengan orang-orang yang banyak membaca, waaaaaahhhh…. Luar biasa!. Bukan hanya mendapat pengetahuan baru, saya juga mendapat suntikan semangat baru!. Makanya, saya suka bergaul dengan mereka yang banyak tahu. Bukan berarti saya pilih-pilih teman.

Orang-orang yang suka membaca juga sering dikira punya sifat pendiam. Orang yang pendiam tidak ada hubungannya dengan kebiasaan suka membaca. Orang tersebut pendiam karena memang karakternya sejak lahir demikian, sudah dari sononya. Bukan karena dia suka membaca. Mungkin dia suka membaca sebagai bentuk pelampiasan karena kurang pergaulan. Tetapi, sekali lagi, bukan diakibatkan karena kebiasaan membaca. Saya banyak mengenal orang-orang yang hobi membaca namun aktif berbicara. Pembicaraannya pun berbobot, bukan omong kosong.

Pada akhirnya, seseorang yang banyak membaca, yang tentunya juga banyak tahu, adalah bagian dari solusi. Mereka adalah aset!. Orang yang tidak banyak membaca, tentunya tidak banyak tahu, tidak bisa diandalkan. Solusi dari sebuah permasalahan didapat melalui pengamatan, pemikiran, dan penggabungan berbagai ide secara terintegrasi. Salah satu sumber utama ide adalah melalui buku. Nah, kalau dia jarang membaca buku, bagaimana bisa dapat ide?. Kalau dia tidak dapat ide, bagaimana bisa mencari solusi?. Kalau dia tidak dapat mencari solusi, bagaimana dia bisa diandalkan?.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak seluruh anak-anak muda untuk mulai memiliki kebiasaan membaca. Jika anda bukanlah tipe orang yang betah berlama-lama dengan buku, tidak apa-apa. Bangun kebiasaan tersebut pelan-pelan. Carilah topik yang anda sukai dan tentunya punya manfaat. Jika seluruh anak muda bisa menjadi bagian dari solusi, saya yakin anak muda tidak lagi tidak dipercaya…. Seperti yang sering didengungkan iklan rokok tersebut.

Written by robert

Mei 14, 2008 at 10:36 am

Ditulis dalam Character and Motivation

IMPULSE BUYING

leave a comment »

Pernahkah anda membeli barang yang tidak direncanakan saat sedang berbelanja?.

Awalnya anda hendak berbelanja pakaian, namun ketika berjalan-jalan di area pusat kosmetik, anda merasa seperti kena hipnotis. Tiba-tiba saja mata anda melahap semua produk kosmetik yang terpampang rapi di tiap counter. Dan sebelum anda bisa menyadarinya, ratusan atau bahkan jutaan rupiah sudah anda keluarkan untuk membeli produk-produk tersebut. Nah, kalau anda pernah mengalaminya (atau mungkin justru sering mengalaminya), anda tidak sendirian. Semua orang pernah mengalaminya, termasuk saya.

Ini pengalaman saya. Sabtu malam lalu, saya pergi ke Johny Andrean Salon untuk gunting rambut. Karena lagi ramai, saya disuruh menunggu sebentar. Namun saya mulai bosan menunggu, sebab sudah 20 menit masih belum dipanggil untuk cuci rambut. Jadi saya putuskan untuk jalan-jalan dulu. Saat itulah mata saya langsung tertuju ke counter Bread Story. Wah, tiba-tiba saja saya langsung membeli beberapa roti di sana, padahal saya tidak lapar.

Pengalaman berikutnya adalah saat berada di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Saya bersama teman-teman berencana memilih beberapa potong baju. Namun jumlah baju yang diambil akhirnya melebihi dari yang direncanakan. Apalagi saat jalan-jalan ke Factory Outlet di Bandung, benar-benar gawat!. Nah, fenomena di atas disebut dengan impulse buying, yaitu pembelian yang tidak direncanakan. Pembelian tersebut terjadi karena sang pembeli dirangsang oleh berbagai faktor, antara lain: program promosi, kehadiran sales promotion girl (SPG) atau sales promotion boy, merchandising (pengaturan letak produk) dan packaging (kemasan yang membungkus produk). Tak heran banyak penjual yang bermain di keempat hal tersebut untuk memicu terjadinya impulse buying

Lihatlah di bulan-bulan tertentu, beberapa toko baju akan membuat program-program promosi, misalnya diskon atau bonus. Umumnya pasti ada batas waktu berlakunya diskon tersebut, sehingga konsumen merasa harus segera membeli baju tersebut sebelum diskonnya habis. Penempatan SPG juga bisa memunculkan rasa ingin beli. Apalagi lagi yang SPG nya jemput bola, misalnya SPG rokok A-Mild dan You C-100. Saya lihat mereka aktif menawarkan produk. Konyolnya, ada juga orang yang membeli produk karena sungkan sama SPG nya. Sementara itu bagi retail-retail seperti Alfamart, Carrefour, Hypermarket, sangat mengandalkan strategi merchandising sebagai salah satu alat untuk memunculkan impulse buying. barang-barang yang paling sering dibeli atau yang punya daya tarik akan diletakkan di tempat yang mudah dijangkau mata konsumen. Pengaturannya pun dibuat semenarik mungkin, agar rasa konsumtif pembeli muncul, apalagi jika didukung dengan packaging produk yang memang menarik. Bukankah banyak dari kita yang membeli suatu barang karena kemasannya yang menarik?.

Kalau dalam kasus saya di atas, perilaku impulse buying saat membeli roti bread story dikarenakan merchandising produk yang membuat perut saya “seolah-olah” lapar. Sedangkan perilaku impulse buying saat membeli baju, terjadi karena faktor merchandising dan program promosi.

Strategi Impulse buying sangat efektif untuk menjangkau konsumen yang konsumtif. Namun, konsumen yang tidak konsumtif juga bisa saja terjerat. Apalagi jika memiliki budget yang berlebih. Namun jika rasa konsumtif tidak dikendalikan, lama-kelamaan bisa memunculkan perilaku hedonisme.

Yang jelas, dimata pebisnis, perilaku impulse buying adalah sebuah peluang untuk mendapat rupiah lebih. tinggal pilih saja beberapa alat pemasaran yang tersedia diatas , yaitu promotion, SPG, Merchandising, atau Packaging.

Written by robert

Mei 1, 2008 at 1:24 am

Ditulis dalam Business and Marketing

DON’T JUDGE THE BOOK BY IT’S COVER

with 4 comments

Tiap orang selalu menilai orang lain. Proses menilai tersebut bisa berlangsung secara sadar ataupun tidak sadar. Penilaian yang dilakukan secara sadar biasanya tampak dalam proses wawancara calon tenaga kerja baru. Disana, seorang pelamar kerja akan dinilai oleh pihak perusahaan, mulai dari karakter, kompetensi, dan pengalamannya dalam bekerja. Sedangkan penilaian secara tidak sadar prosesnya jauh lebih sederhana, namun efeknya bisa sangat mempengaruhi bagaimana seseorang memperlakukan orang yang dinilainya itu. Menilai orang secara salah dapat menjerumuskan kita kedalam sejumlah kerugian tertentu.

 

            Saat pertama kali berkenalan dengan seseorang, kita sebenarnya sudah melakukan penilaian. Jika kita mengingat seseorang karena gaya berpakaiannya yang aneh, wajahnya yang selalu murung, senyumnya yang tulus, sifatnya yang periang, dan berbagai karakteristik lainnya, berarti kita sudah melakukan penilaian. Sumber penilaiannya apa?. Semua yang dapat terlihat dan dirasakan secara fisik oleh kelima indera. Dasar penilaiannya apa? Ya sesuatu yang ideal bagi kita. Kita mengatakan seseorang memiliki gaya berbusana yang buruk karena menurut pandangan kita memang terlihat buruk (tidak ideal), sekalipun belum tentu demikian bagi orang lain. Subjektif memang.

 

            Di sinilah sumber masalah muncul. Subjektifitas yang terkadang bisa menyesatkan. Karena indra manusia yang terbatas, dalam artian tidak bisa melihat kedalaman pribadi manusia, banyak penilaian salah diberikan ke orang yang salah pula. Sering terlihat bahwa seseorang dengan penampilan menarik dan busana yang mewah akan mendapat penilaian lebih positif dibandingkan dengan mereka yang tidak. Tak heran jika dalam dunia kerja, penting sekali mengatur gaya busana untuk menciptakan image yang positif. Tak ada yang perlu diperdebatkan dalam proses penilaian seperti ini.

 

            Namun terkadang kita merasa tertipu jika seseorang yang awalnya kita nilai positif, ternyata tidak sebaik yang kita kira. Ibarat membeli buah yang berkulit segar namun dalamnya busuk!. Misalnya, kita menilai kompetensi seseorang berdasarkan nilai studinya, kemampuannya berbicara (kharisma), dan kemampuan sosialisasinya. Namun dalam hitungan bulan atau tahun, semua penilaian positif tersebut meluntur seiring dengan munculnya karakter-karakter buruk orang tersebut. Karakter buruk tersebut merupakan penghalang utama bagi perkembangan kompetensi orang itu. Kemudian kita sadar bahwa kita telah salah menilai orang.

 

            Jika demikian, bagaimana caranya agar kita tidak salah menilai orang?. Jawabannya bukan terletak dalam proses penilaian, namun dalam proses mengambil kesimpulan!. Saran saya, JANGAN TERLALU CEPAT MENYIMPULKAN!. Bolehlah, kita menilai seseorang secara fisik (karena keterbatasan indera manusia tadi). Tetapi berilah Sang Waktu kesempatan, untuk menunjukkan siapa sesungguhnya orang yang ada di hadapan kita sekarang. Karena kualitas diri yang sejati dinilai oleh waktu!.

Written by robert

April 19, 2008 at 4:44 am

Ditulis dalam Character and Motivation