Robert’s-Idea

Expression and Inspiration

Archive for Mei 2008

BEYOND THE LIMIT!

with 6 comments

Piala yang lepas, ayo diuber!. Mantra sakti tersebut belum bisa membuat Tim Merah-Putih membawa pulang piala Thomas-Uber Cup 2008 kali ini. Tim Thomas Indonesia yang dijagokan untuk merebut piala Thomas, justru kandas di semifinal saat melawan Tim Thomas Korea, dengan skor 0-3. Sebaliknya, Tim Uber yang sejak awal hanya ditargetkan masuk semifinal, justru mampu menembus final setelah menumbangkan Tim Uber Jerman, dengan skor 4-1, dan otomatis berhadapan dengan Tim Uber China.

Sayangnya, perjuangan keras Maria Kristin Yulianti dan kawan-kawan tak sanggup membendung kedahsyatan srikandi tirai bambu. Indonesia kalah 0-3. Namun siapapun yang menyaksikan partai final tersebut, pasti setuju dengan saya, bahwa permainan Tim Ganda Uber Indonesia (Liliyana Natsir/Vita Marissa) sangat memukau!.

Setelah kalah di set pertama dengan skor 15-21, Liliyana/Vita tidak menyerah. Mereka berusaha keras meraih point demi point di set kedua untuk menghambat kemenangan duo Yang Wei/Zhang Jiewen, yang merupakan pemain ganda dengan peringkat nomor 1 dunia. Pukulan dropshot berkali-kali dihujamkan, defense diperketat, tenaga dan semangat terus dipompa. Pasangan Indonesia terus bermain menyerang.

Pertarungan di set kedua begitu menguras tenaga Liliyana/Vita, sebab serangan demi serangan yang dilancarkan dapat diredam oleh Yang Wei/Zhang Jiewen, sehingga duel reli-reli panjang tak terhindarkan lagi. Bahkan Liliyana/Vita harus berkali-kali jatuh bangun untuk menahan serangan dari ganda China tersebut

Kejar-mengejar angka terus terjadi, dimana Tim Uber Indonesia sanggup menahan laju Tim Uber China dengan skor 21-19, walau akhirnya harus menyerah di set ketiga dengan skor 16-21. Meskipun demikian, Tim Uber Indonesia kalah terhormat (mengutip komentar Susi Susanti, manajer Tim Uber Indonesia).

Tak heran jika seluruh pendukung Indonesia di Istora tidak henti-hentinya memberikan dukungan walaupun harus melihat jagoannya kalah. Dukungan tersebut diberikan dengan tetap menyerukan yel-yel “Indonesia-Indonesia” saat penyerahan medali perak, dan menyalami para pemain.

Apa yang dapat kita pelajari?.

Kehidupan kita terkadang mirip sebuah pertandingan. Pertandingan untuk mewujudkan impian, the dream comes true!. Sayang, sebagian orang yang gagal mewujudkan impiannya disebabkan karena mereka menyerah saat pertandingan belum selesai. Dalih yang paling umum adalah “tidak mungkin bisa, ini sudah maksimal”. Seharusnya mereka sadar bahwa TIDAK ADA KATA MAKSIMAL SELAMA PERTANDINGAN BELUM SELESAI!.

Bahkan yang lebih tidak masuk akal lagi, ada yang menyerah dengan dalih “saya kurang ini, kurang itu, bagaimana mungkin bisa”. Jika Liliyana/Vita takut akan nama besar dan kemampuan Yang Wei/Zhang Jiewen, mereka pasti kalah telak di set kedua. Sebaliknya, mereka justru bermain sebaik mungkin, hasil dipikir belakangan, yang penting mengeluarkan seluruh performa terbaik.

Bahkan Tim Thomas Korea yang tidak diunggulkan, sanggup menumbangkan Tim Thomas Indonesia, walaupun peringkat Tim Thomas Indonesia jauh di atas Tim Thomas Korea. Artinya, terkadang kemenangan datang dari kegigihan seseorang untuk terus berjuang, terlepas dari bakat yang dimiliki.

Jika demikian, mari mulai bangkit, dan terus berjuang sebab pertandingan belum berakhir. Jangan puas dengan kemampuan maksimal. Berusahalah untuk dapat melampaui kemampuan maksimal yang dapat kita berikan. Beyond The Limit. Bagaimana dengan hasilnya?. Serahkan pada Tuhan. Setidaknya kalau kalah, kita harus kalah secara terhormat, sebab tidak ada kemampuan yang kita sisakan lagi.

Bravo Liliyana/Vita, thanx for inspiring me!.

Written by robert

Mei 18, 2008 at 9:10 am

Ditulis dalam Character and Motivation

EKSISTENSI MEMBACA

with 2 comments

Jangan terlalu banyak membaca, nanti jadi kutu buku. Ungkapan tersebut sudah akrab di telinga kita, bukan?. Rata-rata kalimat tersebut terlontar dari mulut anak-anak muda. Tak heran, banyak anak muda yang “sungkan” kelihatan rajin membaca. Sebab takut mendapat cap sebagai anak yang sok serius dan gak fun. Tampaknya, membaca bukan hanya menjadi momok, tetapi juga sangat melekat dengan image manusia kuper (kurang pergaulan). Inilah pengertian yang salah tentang membaca.

Justru dengan membaca, seseorang jadi banyak tahu. Orang yang tidak suka membaca, justru tidak banyak tahu. Orang yang tidak banyak tahu, mana enak diajak bicara? Banyak gak nyambungnya.

Saya berbicara dengan banyak orang, dari berbagai tipe, dan dari berbagai jenis muatan otak. Saya amati, tiap kali berbicara dengan orang-orang yang (maaf) jarang membaca, tidak banyak sesuatu yang saya dapatkan. Setelah berpisah dengan orang-orang tersebut, saya merasa nothing. Benar-benar tidak ada kepuasan. Tetapi ketika berbicara dengan orang-orang yang banyak membaca, waaaaaahhhh…. Luar biasa!. Bukan hanya mendapat pengetahuan baru, saya juga mendapat suntikan semangat baru!. Makanya, saya suka bergaul dengan mereka yang banyak tahu. Bukan berarti saya pilih-pilih teman.

Orang-orang yang suka membaca juga sering dikira punya sifat pendiam. Orang yang pendiam tidak ada hubungannya dengan kebiasaan suka membaca. Orang tersebut pendiam karena memang karakternya sejak lahir demikian, sudah dari sononya. Bukan karena dia suka membaca. Mungkin dia suka membaca sebagai bentuk pelampiasan karena kurang pergaulan. Tetapi, sekali lagi, bukan diakibatkan karena kebiasaan membaca. Saya banyak mengenal orang-orang yang hobi membaca namun aktif berbicara. Pembicaraannya pun berbobot, bukan omong kosong.

Pada akhirnya, seseorang yang banyak membaca, yang tentunya juga banyak tahu, adalah bagian dari solusi. Mereka adalah aset!. Orang yang tidak banyak membaca, tentunya tidak banyak tahu, tidak bisa diandalkan. Solusi dari sebuah permasalahan didapat melalui pengamatan, pemikiran, dan penggabungan berbagai ide secara terintegrasi. Salah satu sumber utama ide adalah melalui buku. Nah, kalau dia jarang membaca buku, bagaimana bisa dapat ide?. Kalau dia tidak dapat ide, bagaimana bisa mencari solusi?. Kalau dia tidak dapat mencari solusi, bagaimana dia bisa diandalkan?.

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak seluruh anak-anak muda untuk mulai memiliki kebiasaan membaca. Jika anda bukanlah tipe orang yang betah berlama-lama dengan buku, tidak apa-apa. Bangun kebiasaan tersebut pelan-pelan. Carilah topik yang anda sukai dan tentunya punya manfaat. Jika seluruh anak muda bisa menjadi bagian dari solusi, saya yakin anak muda tidak lagi tidak dipercaya…. Seperti yang sering didengungkan iklan rokok tersebut.

Written by robert

Mei 14, 2008 at 10:36 am

Ditulis dalam Character and Motivation

IMPULSE BUYING

without comments

Pernahkah anda membeli barang yang tidak direncanakan saat sedang berbelanja?.

Awalnya anda hendak berbelanja pakaian, namun ketika berjalan-jalan di area pusat kosmetik, anda merasa seperti kena hipnotis. Tiba-tiba saja mata anda melahap semua produk kosmetik yang terpampang rapi di tiap counter. Dan sebelum anda bisa menyadarinya, ratusan atau bahkan jutaan rupiah sudah anda keluarkan untuk membeli produk-produk tersebut. Nah, kalau anda pernah mengalaminya (atau mungkin justru sering mengalaminya), anda tidak sendirian. Semua orang pernah mengalaminya, termasuk saya.

Ini pengalaman saya. Sabtu malam lalu, saya pergi ke Johny Andrean Salon untuk gunting rambut. Karena lagi ramai, saya disuruh menunggu sebentar. Namun saya mulai bosan menunggu, sebab sudah 20 menit masih belum dipanggil untuk cuci rambut. Jadi saya putuskan untuk jalan-jalan dulu. Saat itulah mata saya langsung tertuju ke counter Bread Story. Wah, tiba-tiba saja saya langsung membeli beberapa roti di sana, padahal saya tidak lapar.

Pengalaman berikutnya adalah saat berada di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Saya bersama teman-teman berencana memilih beberapa potong baju. Namun jumlah baju yang diambil akhirnya melebihi dari yang direncanakan. Apalagi saat jalan-jalan ke Factory Outlet di Bandung, benar-benar gawat!. Nah, fenomena di atas disebut dengan impulse buying, yaitu pembelian yang tidak direncanakan. Pembelian tersebut terjadi karena sang pembeli dirangsang oleh berbagai faktor, antara lain: program promosi, kehadiran sales promotion girl (SPG) atau sales promotion boy, merchandising (pengaturan letak produk) dan packaging (kemasan yang membungkus produk). Tak heran banyak penjual yang bermain di keempat hal tersebut untuk memicu terjadinya impulse buying

Lihatlah di bulan-bulan tertentu, beberapa toko baju akan membuat program-program promosi, misalnya diskon atau bonus. Umumnya pasti ada batas waktu berlakunya diskon tersebut, sehingga konsumen merasa harus segera membeli baju tersebut sebelum diskonnya habis. Penempatan SPG juga bisa memunculkan rasa ingin beli. Apalagi lagi yang SPG nya jemput bola, misalnya SPG rokok A-Mild dan You C-100. Saya lihat mereka aktif menawarkan produk. Konyolnya, ada juga orang yang membeli produk karena sungkan sama SPG nya. Sementara itu bagi retail-retail seperti Alfamart, Carrefour, Hypermarket, sangat mengandalkan strategi merchandising sebagai salah satu alat untuk memunculkan impulse buying. barang-barang yang paling sering dibeli atau yang punya daya tarik akan diletakkan di tempat yang mudah dijangkau mata konsumen. Pengaturannya pun dibuat semenarik mungkin, agar rasa konsumtif pembeli muncul, apalagi jika didukung dengan packaging produk yang memang menarik. Bukankah banyak dari kita yang membeli suatu barang karena kemasannya yang menarik?.

Kalau dalam kasus saya di atas, perilaku impulse buying saat membeli roti bread story dikarenakan merchandising produk yang membuat perut saya “seolah-olah” lapar. Sedangkan perilaku impulse buying saat membeli baju, terjadi karena faktor merchandising dan program promosi.

Strategi Impulse buying sangat efektif untuk menjangkau konsumen yang konsumtif. Namun, konsumen yang tidak konsumtif juga bisa saja terjerat. Apalagi jika memiliki budget yang berlebih. Namun jika rasa konsumtif tidak dikendalikan, lama-kelamaan bisa memunculkan perilaku hedonisme.

Yang jelas, dimata pebisnis, perilaku impulse buying adalah sebuah peluang untuk mendapat rupiah lebih. tinggal pilih saja beberapa alat pemasaran yang tersedia diatas , yaitu promotion, SPG, Merchandising, atau Packaging.

Written by robert

Mei 1, 2008 at 1:24 am

Ditulis dalam Business and Marketing